***
Seperti bintang di setiap malam yang setia menemani sang bulan. Kau, seorang yang selalu ada disaat aku terpuruk, disaat aku terjatuh, ataupun disaat aku tertawa. kau yang selalu membantuku disaat aku sedang kesusahan. Hanya kau sahabat yang mau menerima segala kelebihan dan kekuranganku. Semua orang hanya bisa memandangku kagum dari sosok luar. Mereka hanya mendekatiku ketika aku dibutuhkan. Sedangkan kau, selalu ada disampingku ketika aku merintih. Selalu memapahku disaat aku goyah. Dan selalu mendendangkan melodi ketika aku mulai bosan. Namun ternyata takdir memisahkan kita. Kau pergi bersama ayahmu ke tempat yang tak kuketahui. Tanpa memberitahukanku yang sedang mencari sebuah kebahagiaan. Kau pergi dengan membawa semua kebahagiaanku. Kau pergi dengan menyisakan luka. Kau pergi tanpa memikirkan bagaimana diriku setelah tak ada dirimu yang selalu ada di sampingku. Namun aku takkan egois. Aku tak akan memelihara rasa ego ku. Aku akan mencoba tuk melupakanmu. Walau kutahu itu akan susah. Sangat susah.Waktu berjalan sesuai dengan keadaan. Dan aku tetap terpuruk dalam kepergianmu. Sekeras apapun telah kucoba, namun ternyata semakin melekat pula memoriku tentang dirimu. Tentang kenangan kita, saat kita bersama.
Saat aku berjalan, tak sadar aku melihat kearah sisi jalan. Kuterpaku menatap orang itu.kupandangi dia lekat-lekat. Astaga! Dia mirip sekali dengannya. Dia tersenyum. Senyumnya. Sama sepertinya. Tak berubah sedikitpun. Hanya dia sekarang terlihat cantik dengan gaun putih yang dipadu dengan flat shoes dan bando berwarna putih. Cantik, anggun, nan menawan. Seperti malaikat yang sedang bermain di bumi.
Saat aku mengalihkan pandanganku menatap burung merpati yang sedang mengepakkan sayapnya lalu menghilang ditelan jarak yang membentang lalu kkutatap kearah tadi saat ia berdiri, namun ternyata ia sudah tak ada. Menghilang seperti tidak ada tanda-tanda bahwa ia pernah ada di daerah itu. Kuhela nafasku.
“mungkin tadi hanya imajinasiku saja.” Gumamku kecil sehingga hanya aku yang mendengarnya.
Tak dapat kupungkiri bahwa aku jadi mengingatnya kembali. Setelah berusaha bertahun-tahun untuk mengubur semua tentangnya, ia datang kembali dan membongkar benteng pertahanan yang sudah kokoh menjadi hancur lebur. Ingin marah namun aku rindu padanya. Entah dimana dia ingat atau tidak kepadaku. Aku akan selalu ingat kepadanya.
Ku dongakkan kepalaku menatap gumpalan awan putih.
“AKU RINDU PADAMU, ALLYS.”
***
krik.krik.krik
gimana ? jelek kan? wehehehe. maklumin aja ya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar