Kepergianmu
Oleh: Laksita Gandhis(IX-9/13)
Pagi
ini. Hari yang cerah. Kukembangkan senyum untuk menyambut matahari pagi.
Kulangkahkan kaki mendekati cermin besar yang berada di sudut kamarku. Kulihat
pantulan di cermin. Seorang gadis dengan balutan seragam OSIS biru putih di
tubuhnya. Kulitnya coklat sawo. Rambutnya hitam pekat sebahu. Aku. Gadis dalam
pantulan kaca itu aku. Kenalkan, namaku Granis. Lengkapnya Letania Granis.
siswi kelas 8-G di SMP Tunas Bangsa. Bayangan dalam pantulan itu terlihat cerah.
Tidak seperti bayangan diriku beberapa bulan sebelumnya.
Hari
demi hari kulalui dengan hambar. Abu-abu. Tak berwarna. Hingga akhirnya dia
datang padaku. Menyelusup di relung-relung kehidupanku. Dia. Lelaki
berperawakan tegap. Rahangnya tegas. Senyumnya manis terkembang. Ia berwajah
oval dan berlapis kacamata yang sedikit menyamarkan sorot dari kedua mata tajamnya.
Rambutnya ikal. Lelaki itu, Devara. Penghuni kelas sebelah, 8-H. pertama kali
aku mengenalnya dari situs jejaring sosial. Masih tahun pertama kami duduk di
bangku SMP, saat itu aku dan Devara masih belum terlalu akrab. Akupun belum mengetahui
mana sosok Devara yang sebenarnya. Aku hanya mengetahui nama panjangnya. Andevara
Naufaldi Nelwan, nama yang sejak awal membuatku dibayang-bayangi rasa penasaran.
Hanya sapaan basa-basi yang terlontar
dalam obrolan di dunia maya. Hari-hariku menjadi lebih berwarna setelah ia
memintaku menjadi pelengkap harinya. Aku ingat, saat itu awal aku dan Devara
kembali dekat. Tidak hanya di dunia maya, namun juga di dunia nyata. Aku juga
ingat, saat hari itu ia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Pada akhir bulan
Oktober. Hari itu, pertama kalinya kami bertatap muka untuk waktu yang cukup lama,
dan juga pertama kalinya aku dan Devara jalan bersama walaupun kami tidak hanya
berdua. Hari-hariku menjadi cerah karenanya. Berbagai kejutan hadir di
kehidupanku. Banyak tawa yang menghiasi hariku. Banyak kasih sayang yang ia limpahkan
kepadaku. Karena Devara, hidupku menjadi lebih berarti. Karena Devara, hidupku
bagaikan pelangi. Indah.
Semua
berjalan bagaikan mimpi. Hari-hari indah itu nyata walaupun menyerupai cerita
fiksi. Perbuatan-perbuatannya yang membuatku tersipu itu semakin memabukkanku.
Membuatku enggan menapaki tanah. Membuatku betah untuk melayang. Hingga suatu
hari, aku mendapati Devara berhubungan dengan salahsatu teman sekelasnya dan juga
cinta pertamanya yang kukenal bernama Denada. Mereka terlihat sangat dekat.
Bahkan, Devara sering mengacuhkan mention yang kukirimkan kepadanya. Seketika
aku bingung. Berbagai pertanyaan berkelebat di pikiranku. Apakah sebenarnya Devara bahagia karenaku? Apakah aku memang gadis yang
Devara cintai? Apakah aku hanya penghalang cinta Devara dan Denada? Apakah aku
hanya pelarian? Dan berbagai pertanyaan lain yang mulai mengusik ketenanganku.
“Kok Devara sama Denada
di TL deket sih Gran? Kamu nggak cemburu? Kalo aku jadi kamu, aku bakal marah
sama Devara.” Pertanyaan yang lengkap dengan
penyataan itu meluncur dari bibir salah satu teman dekatku, Nares. Celetukan
khas Nares yang apa adanya itu malah membuatku kelimpungan. Sehingga hanya
kujawab dengan senyuman. Walaupun aku tahu senyuman itu pasti terlihat
dipaksakan. Aku berusaha untuk positive
thinking. Bagaimanapun juga, aku belum punya bukti yang nyata untuk
mengomeli Devara tentang kedekatannya dengan Denada. Lagipula, siapa aku? Aku kan sekedar pacarnya Devara, bukan istrinya.
karena pikiran itu aku mencoba untuk mengacuhkan pikiran-pikiran negatif
tentang Devara dan Denada. Aku harus mempercayai Devara.
Hingga
hari demi hari Devara dan Denada selalu absen memenuhi timeline twitterku.
Entah itu candaan ataupun rayuan. Dan itu membuat rasa kepercayaanku kepada Devara
kian memudar. Apalagi Devara juga jadi jarang mengirimkan pesan singkat
kepadaku. Membuat pertanyaan-pertanyaan yang dulu sempat terpikir menjadi
muncul lagi ke permukaan otakku. Kesabaranku semakin menipis. Sampai suatu hari
kesabaran itu benar-benar habis. Hati, pikiran, dan otakku dipenuhi api
cemburu. Aku mencari-cari Devara mengelilingi sekolah. Dan hasilnya nihil. Aku
memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepadanya.
Kamu ngga masuk
sekolah?
Send!
Aku
menanti balasan sms darinya. Cemas. Aku berharap dia tidak mengabaikan pesan
itu. Aku hanya ingin memastikan perasaan dia yang sebenarnya dan juga aku ingin
mengatakan perasaan cemburuku yang sebenarnya ke Devara. Aku ingin jujur dan
memastikan fakta yang sebenarnya. Namun ketika aku memiliki keberanian untuk
mengatakan kecemburuanku, kenapa Devara malah menghilang tanpa jejak?
Aku
masih bergelut dalam duniaku. Hingga aku merasakan getaran yang bersumber dari
hp di genggamanku. Dengan buru-buru aku membuka pesan itu. Dari Devara!
Iya. Aku pergi ke
Jakarta.
Sudah?
Hanya itu? Apakah Devara benar-benar tidak mencintaiku? Apakah pikiran-pikiran
yang berkecamuk dalam otakku itu benar adanya? Sesingkat itu pesannya kepadaku?
Aku masih tidak mempercayainya. Bahkan Devara nggak menanyakan keadaanku.
Lututku
terasa lemas. Badanku merosot dengan pandangan mata yang masih menatap pesan
dari Devara beberapa menit yang lalu. Pertahananku mulai runtuh. Badanku
bergetar. Kurasakan mutiara bening itu mengalir bebas membasahi wajahku. Meluapkan
kesedihanku, kekecewaanku, semuanya. Semua perasaan itu telah terwakilkan oleh
cairan bening yang masih menganak sungai itu. Di depan kelas 8-G ini aku
menangis tanpa suara. Menjadi saksi bisu ketika aku menangisinya untuk yang
pertama kali.
Kurasakan
tepukan di pundakku. Pelan.
“kamu
nggapapa kan Gran?” tanya Nares penuh simpatik.
“ngga
kok. Aku nggapapa.” Ujarku sambil mengulas senyum. Senyum pedih.
Kurasakan
jemari Nares membelai rambutku pelan. Aku tahu. Aku tahu Nares mengkhawatirkan
keadaanku.
“aku
ngga kenapa-kenapa kok, Res. Cuma yah aku sedikit kecewa aja. Udah udah kenapa
jadi mellow gini sih.” Ucapku pelan sambil meringis. Nares tersenyum paham.
“kamu
duluan sih.” Nares tertawa. “udah yuk pulang. Daripada kamu nangis disini.”
Lanjutnya.
***
Sore
ini. Lagi-lagi nama Devara dan Denada memenuhi timeline twitterku. Aku cemburu Devara,
aku cemburu! Devara kamu sadar nggak sih
kalo aku masih pacar kamu? Lagi-lagi rasa itu menjalar. Rasa ketakutan. Aku
takut kehilangan Devara. Aku takut. Aku terlanjur menyayanginya. Hingga emosi
itu kembali menjalar. Jemariku menari-nari di atas keyboard netbook
kesayanganku. Mengetik sebuah kalimat, kalo
udah ngga cinta kenapa harus dipertahanin? Memang terkesan menyindir. Aku
hanya terlampau emosi. Sejujurnya aku hanya kalut. Tak kusangka Devara
membacanya. Ketika aku membuka tab bagian facebook, ternyata ada sebuah chat. Devara!
Dengan sedikit panik aku membuka chat tersebut. Awalnya dia bertanya kenapa aku
tidak membalas pesan singkatnya. Seketika aku membuka hp yang kuanggurkan.
Memang ada sebuah pesan darinya. Dalam pesan itu menanyakan pertanyaan yang
sama di chat selanjutnya. Dalam chatnya, Devara hanya meminta maaf. Hingga
gulir-gulir kalimat itu belum sempat menyadarkanku. Devara menuliskan lagi
sebuah kalimat yang menjatuhkanku. Lebih
baik kita udahan aja. Dan kedua kalinya untuk hari ini aku menangisi Devara.
Menangisi kepergiannya. Air mata ini meluruh. Mengiringi pekatnya kekecewaan.
Mengiringi hilangnya Devara dari sisiku. Aku menyesal. Kenapa tadi harus menyindirnya.
Kenapa harus lepas kontrol. Kenapa aku nggak bisa menahan cemburu. Aku
menyesali perbuatanku itu. Namun nasi sudah menjadi bubur. Semua yang terjadi
nggak bisa kembali seperti semula.
Pagi
harinya. Aku mencoba untuk tersenyum. Kurasakan udara pagi yang lembab. Dingin.
Mungkinkah semalam hujan ikut menangis bersama hatiku? Aku berangkat sekolah
pagi. Lebih pagi dari biasanya. Entahlah aku juga tidak mengerti kenapa aku
bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Mungkinkah karena tangisan semalam?
Sudahlah. Ternyata ruang kelas 8-G tempatku belajar sudah berpenghuni. Vika.
Teman sekelasku yang memang selalu berangkat paling pagi itu sudah menghadap
notebooknya. Lalu kuhampiri tempat duduknya. Ia menoleh kepadaku.
“Nis?”
tanyanya sembari menunjuk status hubungan yang memang sudah kuubah semalam.
Matanya menatapku penuh tanda tanya. Aku tahu. Air mata ini sudah terkumpul
sempurna di pelupuk mataku. Tidak perlu ditutupi semua tentunya akan tahu. Aku
hanya tersenyum sambil menatap nanar tampilan di layar notebooknya.
“iya,
aku sama Devara udah putus.” Ujarku akhirnya setelah beberapa menit keheningan
yang menguasai. Lalu tanpa diberi komando, bahuku bergetar. Tangisan itu tak
lagi bisa dibendung. Dan untuk ketiga kalinya aku menangisi Devara. Menangisi
penyesalanku. Menangisi kebodohanku. Menangisi kepergiannya.
Dan
akhirnya aku sadar. Cinta ini memang terlalu rapuh tapi cinta ini hidup. Bodohnya
aku, cinta ini kurawat penuh kasih sayang namun juga kuhancurkan dengan ego
yang sangat besar. Hingga ia hancur mengenaskan. Aku menyesal. Aku sangat
menyesal telah menghancurkan cintaku sendiri. Aku menyesal telah membumbuinya
dengan ego yang tinggi. Walaupun aku belum tentu tahu bagaimana Devara merawat
cinta itu. Namun aku tetap menyesal.
-end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar