welcome :D

love, friends, life, and other.

Kamis, 06 September 2012

kepergianmu


Kepergianmu
Oleh: Laksita Gandhis(IX-9/13)

Pagi ini. Hari yang cerah. Kukembangkan senyum untuk menyambut matahari pagi. Kulangkahkan kaki mendekati cermin besar yang berada di sudut kamarku. Kulihat pantulan di cermin. Seorang gadis dengan balutan seragam OSIS biru putih di tubuhnya. Kulitnya coklat sawo. Rambutnya hitam pekat sebahu. Aku. Gadis dalam pantulan kaca itu aku. Kenalkan, namaku Granis. Lengkapnya Letania Granis. siswi kelas 8-G di SMP Tunas Bangsa. Bayangan dalam pantulan itu terlihat cerah. Tidak seperti bayangan diriku beberapa bulan sebelumnya.
Hari demi hari kulalui dengan hambar. Abu-abu. Tak berwarna. Hingga akhirnya dia datang padaku. Menyelusup di relung-relung kehidupanku. Dia. Lelaki berperawakan tegap. Rahangnya tegas. Senyumnya manis terkembang. Ia berwajah oval dan berlapis kacamata yang sedikit menyamarkan sorot dari kedua mata tajamnya. Rambutnya ikal. Lelaki itu, Devara. Penghuni kelas sebelah, 8-H. pertama kali aku mengenalnya dari situs jejaring sosial. Masih tahun pertama kami duduk di bangku SMP, saat itu aku dan Devara masih belum terlalu akrab. Akupun belum mengetahui mana sosok Devara yang sebenarnya. Aku hanya mengetahui nama panjangnya. Andevara Naufaldi Nelwan, nama yang sejak awal membuatku dibayang-bayangi rasa penasaran.  Hanya sapaan basa-basi yang terlontar dalam obrolan di dunia maya. Hari-hariku menjadi lebih berwarna setelah ia memintaku menjadi pelengkap harinya. Aku ingat, saat itu awal aku dan Devara kembali dekat. Tidak hanya di dunia maya, namun juga di dunia nyata. Aku juga ingat, saat hari itu ia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Pada akhir bulan Oktober. Hari itu, pertama kalinya kami bertatap muka untuk waktu yang cukup lama, dan juga pertama kalinya aku dan Devara jalan bersama walaupun kami tidak hanya berdua. Hari-hariku menjadi cerah karenanya. Berbagai kejutan hadir di kehidupanku. Banyak tawa yang menghiasi hariku. Banyak kasih sayang yang ia limpahkan kepadaku. Karena Devara, hidupku menjadi lebih berarti. Karena Devara, hidupku bagaikan pelangi. Indah.
Semua berjalan bagaikan mimpi. Hari-hari indah itu nyata walaupun menyerupai cerita fiksi. Perbuatan-perbuatannya yang membuatku tersipu itu semakin memabukkanku. Membuatku enggan menapaki tanah. Membuatku betah untuk melayang. Hingga suatu hari, aku mendapati Devara berhubungan dengan salahsatu teman sekelasnya dan juga cinta pertamanya yang kukenal bernama Denada. Mereka terlihat sangat dekat. Bahkan, Devara sering mengacuhkan mention yang kukirimkan kepadanya. Seketika aku bingung. Berbagai pertanyaan berkelebat di pikiranku. Apakah sebenarnya Devara bahagia karenaku? Apakah aku memang gadis yang Devara cintai? Apakah aku hanya penghalang cinta Devara dan Denada? Apakah aku hanya pelarian? Dan berbagai pertanyaan lain yang mulai mengusik ketenanganku.
“Kok Devara sama Denada di TL deket sih Gran? Kamu nggak cemburu? Kalo aku jadi kamu, aku bakal marah sama Devara.” Pertanyaan yang lengkap dengan penyataan itu meluncur dari bibir salah satu teman dekatku, Nares. Celetukan khas Nares yang apa adanya itu malah membuatku kelimpungan. Sehingga hanya kujawab dengan senyuman. Walaupun aku tahu senyuman itu pasti terlihat dipaksakan. Aku berusaha untuk positive thinking. Bagaimanapun juga, aku belum punya bukti yang nyata untuk mengomeli Devara tentang kedekatannya dengan Denada. Lagipula, siapa aku? Aku kan sekedar pacarnya Devara, bukan istrinya. karena pikiran itu aku mencoba untuk mengacuhkan pikiran-pikiran negatif tentang Devara dan Denada. Aku harus mempercayai Devara.
Hingga hari demi hari Devara dan Denada selalu absen memenuhi timeline twitterku. Entah itu candaan ataupun rayuan. Dan itu membuat rasa kepercayaanku kepada Devara kian memudar. Apalagi Devara juga jadi jarang mengirimkan pesan singkat kepadaku. Membuat pertanyaan-pertanyaan yang dulu sempat terpikir menjadi muncul lagi ke permukaan otakku. Kesabaranku semakin menipis. Sampai suatu hari kesabaran itu benar-benar habis. Hati, pikiran, dan otakku dipenuhi api cemburu. Aku mencari-cari Devara mengelilingi sekolah. Dan hasilnya nihil. Aku memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepadanya.
Kamu ngga masuk sekolah?
Send!
Aku menanti balasan sms darinya. Cemas. Aku berharap dia tidak mengabaikan pesan itu. Aku hanya ingin memastikan perasaan dia yang sebenarnya dan juga aku ingin mengatakan perasaan cemburuku yang sebenarnya ke Devara. Aku ingin jujur dan memastikan fakta yang sebenarnya. Namun ketika aku memiliki keberanian untuk mengatakan kecemburuanku, kenapa Devara malah menghilang tanpa jejak?
Aku masih bergelut dalam duniaku. Hingga aku merasakan getaran yang bersumber dari hp di genggamanku. Dengan buru-buru aku membuka pesan itu. Dari Devara!
Iya. Aku pergi ke Jakarta.
Sudah? Hanya itu? Apakah Devara benar-benar tidak mencintaiku? Apakah pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam otakku itu benar adanya? Sesingkat itu pesannya kepadaku? Aku masih tidak mempercayainya. Bahkan Devara nggak menanyakan keadaanku.
Lututku terasa lemas. Badanku merosot dengan pandangan mata yang masih menatap pesan dari Devara beberapa menit yang lalu. Pertahananku mulai runtuh. Badanku bergetar. Kurasakan mutiara bening itu mengalir bebas membasahi wajahku. Meluapkan kesedihanku, kekecewaanku, semuanya. Semua perasaan itu telah terwakilkan oleh cairan bening yang masih menganak sungai itu. Di depan kelas 8-G ini aku menangis tanpa suara. Menjadi saksi bisu ketika aku menangisinya untuk yang pertama kali.
Kurasakan tepukan di pundakku. Pelan.
“kamu nggapapa kan Gran?” tanya Nares penuh simpatik.
“ngga kok. Aku nggapapa.” Ujarku sambil mengulas senyum. Senyum pedih.
Kurasakan jemari Nares membelai rambutku pelan. Aku tahu. Aku tahu Nares mengkhawatirkan keadaanku.
“aku ngga kenapa-kenapa kok, Res. Cuma yah aku sedikit kecewa aja. Udah udah kenapa jadi mellow gini sih.” Ucapku pelan sambil meringis. Nares tersenyum paham.
“kamu duluan sih.” Nares tertawa. “udah yuk pulang. Daripada kamu nangis disini.” Lanjutnya.
***
Sore ini. Lagi-lagi nama Devara dan Denada memenuhi timeline twitterku. Aku cemburu Devara, aku cemburu! Devara kamu sadar nggak sih kalo aku masih pacar kamu? Lagi-lagi rasa itu menjalar. Rasa ketakutan. Aku takut kehilangan Devara. Aku takut. Aku terlanjur menyayanginya. Hingga emosi itu kembali menjalar. Jemariku menari-nari di atas keyboard netbook kesayanganku. Mengetik sebuah kalimat, kalo udah ngga cinta kenapa harus dipertahanin? Memang terkesan menyindir. Aku hanya terlampau emosi. Sejujurnya aku hanya kalut. Tak kusangka Devara membacanya. Ketika aku membuka tab bagian facebook, ternyata ada sebuah chat. Devara! Dengan sedikit panik aku membuka chat tersebut. Awalnya dia bertanya kenapa aku tidak membalas pesan singkatnya. Seketika aku membuka hp yang kuanggurkan. Memang ada sebuah pesan darinya. Dalam pesan itu menanyakan pertanyaan yang sama di chat selanjutnya. Dalam chatnya, Devara hanya meminta maaf. Hingga gulir-gulir kalimat itu belum sempat menyadarkanku. Devara menuliskan lagi sebuah kalimat yang menjatuhkanku. Lebih baik kita udahan aja. Dan kedua kalinya untuk hari ini aku menangisi Devara. Menangisi kepergiannya. Air mata ini meluruh. Mengiringi pekatnya kekecewaan. Mengiringi hilangnya Devara dari sisiku. Aku menyesal. Kenapa tadi harus menyindirnya. Kenapa harus lepas kontrol. Kenapa aku nggak bisa menahan cemburu. Aku menyesali perbuatanku itu. Namun nasi sudah menjadi bubur. Semua yang terjadi nggak bisa kembali seperti semula.
Pagi harinya. Aku mencoba untuk tersenyum. Kurasakan udara pagi yang lembab. Dingin. Mungkinkah semalam hujan ikut menangis bersama hatiku? Aku berangkat sekolah pagi. Lebih pagi dari biasanya. Entahlah aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Mungkinkah karena tangisan semalam? Sudahlah. Ternyata ruang kelas 8-G tempatku belajar sudah berpenghuni. Vika. Teman sekelasku yang memang selalu berangkat paling pagi itu sudah menghadap notebooknya. Lalu kuhampiri tempat duduknya. Ia menoleh kepadaku.
“Nis?” tanyanya sembari menunjuk status hubungan yang memang sudah kuubah semalam. Matanya menatapku penuh tanda tanya. Aku tahu. Air mata ini sudah terkumpul sempurna di pelupuk mataku. Tidak perlu ditutupi semua tentunya akan tahu. Aku hanya tersenyum sambil menatap nanar tampilan di layar notebooknya.
“iya, aku sama Devara udah putus.” Ujarku akhirnya setelah beberapa menit keheningan yang menguasai. Lalu tanpa diberi komando, bahuku bergetar. Tangisan itu tak lagi bisa dibendung. Dan untuk ketiga kalinya aku menangisi Devara. Menangisi penyesalanku. Menangisi kebodohanku. Menangisi kepergiannya.
Dan akhirnya aku sadar. Cinta ini memang terlalu rapuh tapi cinta ini hidup. Bodohnya aku, cinta ini kurawat penuh kasih sayang namun juga kuhancurkan dengan ego yang sangat besar. Hingga ia hancur mengenaskan. Aku menyesal. Aku sangat menyesal telah menghancurkan cintaku sendiri. Aku menyesal telah membumbuinya dengan ego yang tinggi. Walaupun aku belum tentu tahu bagaimana Devara merawat cinta itu. Namun aku tetap menyesal.
-end-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar